Koleksi Terbaru Kami
Tampilkan postingan dengan label R.A Hirmana Wargahadibrata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label R.A Hirmana Wargahadibrata. Tampilkan semua postingan

HIR: Rumus Keberuntungan

Keberuntungan adalah interaksi antara kesempatan/peluang dan kesiapan.



Luck = opportunity X readiness



Pekan lalu sebagian besar Kloter kelas siang tidak mempersiapkan diri (sehingga tidak siap) dengan materi yang sebelumnya sudah saya kirimkan di milis ketika saya sedang membahas ini yang saya integrasikan dengan topik Intrapreneurship. Dari pengalaman itu saya mempunyai versi rumus modifikasinya.



Luck = opportunity X willingness to get ready



Keberuntungan ialah interaksi antara kesempatan/peluang dan kemauan untuk mempersiapkan diri alias mau berubah/belajar



Perhatikanlah bahwa saya tidak menggunakan + melainkan X. Mengapakah demikian?



Karena dengan X itu berarti bahwa bila salah satu di antara dua itu (opportunity, readiness) kosong atau tidak ada, maka luck pun akan pasti tidak ada pula sebesar atau sehebat apa pun opportunity itu.



Rumus matematikanya: 1 milyar peluang X nol besar kesiapan = nol besar keberuntungan




R.A. Hirmana Wargahadibrata

HIR : 14 Bidang Industri Kreatif

sebuah surat dari Pak Hir


Lagi-lagi Tuhan YME membuktikan kepada saya bahwa sepanjang saya melayani mahasiswa saya maka Ia selalu mendukung dengan bantuan yang saya tidak pernah tahu datangnya dari mana dan dengan cara bagaimana.



Berikut ini saya mengirimkan alamat tautan (link) Blog Pak Didik tentang 14 Bidang Unggulan Kreatif Industri Indonesia.

https://thedigital.wordpress.com/2008/10/15/14-bidang-unggulan-industri-kreatif-indonesia/


Satu bentuk deep practice yang sebetulnya sangat layak (bahkan seharusnya) dilakukan kepada Anda selama ini menjadi mahasiswa TP adalah dengan mengintegrasikan antara TP dengan bidang unggulan industri kreatif ini yang sesungguhnya adalah entrepreneurship juga.




Ibarat menyelam (diving), deep practice ini memperdalam keahlian Anda (zoom in) tanpa harus berpikir sempit karena kurang zoom out. Pertanyaannya adalah seberapa maukah sebenarnya Anda mahasiswa untuk menyelam deep ini?




R.A. Hirmana Wargahadibrata

Profil : Jasa Training Murah





PENDAHULUAN

Perkembangan dunia bisnis, sosial dan politik sekarang ini penuh dengan kompetisi dan ancaman. Permasalahan yang selalu muncul setiap tahun adalah bagaimana menjaga dan meningkatkan kinerja layanan untuk menghadapi perkembangan bisnis, sosial dan politik yang makin dinamis.  

Permasalahan menjaga dan meningkatkan kinerja organisasi seperti diketahui pada umumnya terdapat pada berbagai organisasi. Permasalahan menjaga dan meningkatkan kinerja menjadi suatu prioritas bagi organisasi yang berorientasi profit atau organisasi bisnis. Hal ini dikarenakan dampak dari pengelolaan kinerja organisasi dapat berimbas dan terukur secara finansial. 


Namun usaha-usaha untuk mempertahankan kinerja dan meningkatkan kinerja pada sebuah organisasi tidak hanya milik organisasi profit dan  privat. Usaha-usaha peningkatan kinerja ini juga ada dan menjadi perhatian organisasi non-profit dan publik.  Hal ini dikarenakan pengelolaan dan peningkatan kinerja organisasi yang baik akan berdampak pada ketercapaian tujuan organisasi dan manfaatnya bagi pengguna jasa mereka. 

180 Degree Bong Chandra

Selamat pagi untuk rekan-rekan Tekinas dan para penggemarnya. Sabtu (6/8) lalu, saya diundang oleh Pak Hirmana untuk menghadiri seminar Bong Chandra dengan judul “180 Degree”. Acara ini diselenggarakan di Mega Glodok Kemayoran (MGK). Gembira juga bisa bertemu kembali lagi dengan Pak Hir setelah sekian lama. Namun ‘agak-agak keki’ juga menghadiri acara ini.

<Lah... kok bisa?!!>
. . . .

Erwin Arnada yang Low Profile


Selepas makan siang, saya berbincang dengan Erwin Arnada. Ini pun ’sembari’ saya mendengarkan wawancara beliau dengan seorang peserta yang mungkin dari salah satu media cetak atau komunitas entrepreneurship.

Entrepreneurship sebenarnya bisa berkembang dan dikembangkan. Tapi itupun tidak perlu menunggu pemerintah. Asal iklim dan dukungan dari pihak lain, ide-ide kreatif dan peluang entreprenurship bisa muncul.

Saya sempat menanyakan latar belakang keluarga Pak Erwin Arnada. Sebenarnya Beliau ini dari keluarga seperti apa sih? Apakah sudah keturunan orang kaya atau bagaimana ya? ”Keluarga saya pedagang,” ujarnya lugas. Tapi saya besar karena saya mendalami fotografi dan dunia jurnalistik.
. . . .
silahkan klik untuk lanjut di halaman utama...

Meet Andy F. Noya


Andy F. Noya dengan topi hitamnya duduk di depan saya ketika berada di aula utama acara IDEAFEST 2011. Meski gelap, siluet tubuhnya dan rambut keritingnya tidak bisa mengelabui saya bahwa itu adalah host Kick Andy. Peluang untuk bisa berbicara dan menatap mata seorang pribadi yang sudah terkenal kreatif tidak bisa didapat bila tidak ada keberanian dan kemauan. Selama di kelas Pak Hirmana selalu mendorong mahasiswanya untuk berani untuk mau melakukan sesuatu yang baik.

Awalnya sudah ada beberapa orang peserta yang meminta tanda tangan dan foto bersama. Wah kecolongan nih. Bahkan untuk memuluskan niat saya. Secara kreatif saya merelakan diri saya untuk membantu memfotokan dua orang yang ingin foto bersama. Agar apa? Agar saya bisa dapat difoto berdua dengan Andy F. Noya dan berbicara sebentar.

Apa yang saya katakan adalah suatu apresiasi dan kekaguman. Apa itu? Saya katakan, ”Pak Andy, saya perhatikan beberapa orang terkenal yang saya kenal secara langsung ataupun tidak langsung ternyata memiliki basic seorang Jurnalistik.” yah, contoh sederhana seperti Erwin Arnada, atau Sapto Anggoro yang membesarkan portal berita Detik. Dan tanggapannya sesederhana kelakarnya di panggung. Senyum dan gumaman, ”Iya.” Setelah itu? Biarlah, toh kami mau beranjak makan siang.
(im)

nb:foto saya dgn Pak Andy F. Noya menggunakan kamera sdr. Oddie dari KORRNER-DESIGN STUDIO (Trims Mas Oddie)

IDEAFEST CONFERENCE 2011 Stefan Sagmeister


“Everything I do always comes back to me.” Prinsip inilah yang membuat Stefan Sagmeister bahagia untuk berkreasi. Kenapa? Dengan bahagia, dia mendesain dan menghasilkan kreasi yang akan membahagiakan dirinya (dan bisa jadi orang lain :).

Presentasinya mengungkapkan tentang kebahagiaan. Are you bored? Are you fell this looks like ok.. or.. are you happy? Or in the high level, are you life love (mudah-mudahan saya tidak salah ingat :p).

Dengan cara sederhana, Stefan menunjukkan bahwa ekspresi emosi positif seorang manusia dengan ekspresi emosi negatifnya adalah 1:6. (Mau cek? Coba hitung sendiri) Hal ini menunjukkan bahwa begitu mudah seseorang memiliki emosi negatif dan tidak menemukan kebahagiaan. Meskipun begitu, terkadang bila kita memiliki energi positif dan kebahagiaan, kita masih memerlukan setidaknya satu emosi negatif. Kenapa ya? (Mungkin ini untuk menghasilkan ide kreatif).

Beberapa kali Stefan menunjukkan visualisasi ide dan contoh kreatif. Bahkan beberapa hasil karya desainnya. Pun begitu dia tetap memberikan perhatian kepada “Happiness” terutama dikalangan desainer (pelaku kreatif).

Ada beberapa hal yang membuat seorang tidak kreatif. Tidak bahagia. Bahkan menjadi tidak produktif. Salah satunya mengenai pekerjaan. Hal ini merupakan suatu yang wajar. Dia mencontohkan 3 cara yang biasa digunakan untuk mengembalikan kebahagiaan atau untuk menenangkan kebuntuan diri. Pertama dengan cara meditasi. Kedua dengan terapi kognitif. Ketiga dengan menggunakan obat-obatan. Tentunya obat-obatan yang secara legal biasa digunakan untuk menengkan diri. Selain harganya murah. Orang-orang pun tidak perlu repot-repot untuk melakukan meditasi atau mengikuti terapi.

Pada bagian inilah Stefan memberikan tip-tip apa saja untuk menghindari masalah atau  ketidakbahagiaan dan membuat diri kembali produktif bagi para desainer. Ada delapan hal. Salah satunya adalah dengan membuat kreasi yang sudah dikenal alias familiar dan keseharian. Stefan mengakhiri presentasi dengan menunjukkan karya kreatif dalam film ”The Happy Film” yang dibuatnya ketika merefleksikan kembali apa yang sudah dikerjakannya selama ini.
”..,Having... GUTs... work out... for ...me.”
 


(im)

IDEAFEST CONFERENCE 2011 -before lunch-

Siang hari di Jakarta tidak dapat mengalahkan dinginnya ruang acara IDEAFEST di Balai Sidang Jakarta (JCC) Sabtu 23 Juli 2011 ini. Bukan sebuah keberuntungan semata saya dapat bertemu dengan Glenn Fredly dan berbicara dengan Erwin Arnada –yang masih hangat dengan kasus majalah Playboy. Saya bisa berada di ruang gelap nan dingin--dengan hentakan musik dan kilatan laser—ini karena peluang dan usaha. Kok bisa?!






Berawal dari kedekatan saya dengan milis yang di ampu Pak Hirmana, saya dikirimkan informasi mengenai acara IDEAFEST. Pada kiriman informasi di milis, terdapat forward dari milis itechnopreneurship (yang sangat mungkin Pak Hirmana juga ikut serta di milis tersebut) yang berisi tentang Quiz untuk mendapatkan tiket gratis mengikuti acara IDEAFEST. Sangat kecil kemungkinannya saya bisa mendapatkan tiket gratis tersebut karena batas waktu yang sempit dalam hitungan 24 jam harus sudah menjawab Quiz tersebut. Namun, peluang yang diusahakan itu tercapai pada Kamis (21/7) siang ketika sedang menunggu kesempatan seorang kawan yang akan bersidang.

..............................
Di iringi music performance BayuRiza yang menghentak dan “Life” saya menulis kata-kata ini. Sebelumnya Glenn Fredly mengungkapkan bahwa potensi capital seorang kreatif adalah ’talent’nya. Erwin Arnada menyusul setelahnya. Sampai akhirnya menyempatkan berbicara langsung dengan Andy F. Noya sebelum istirahat makan siang.
.............


Glenn Fredly menyenandungkan salah satu lagunya yang bercerita tentang diri kita yang mengharapkan cahaya. Padahal diri kita adalah cahaya itu sendiri. Namun cahaya itu hanya akan terlihat bila kita berada di lingkungan yang gelap. Bila berada di tempat terang maka silau namanya (walah!). Senandung itu sendiri menggambarkan bagaimana sekarang kelanjutan hidup Glenn Fredly setelah lepas bermusik di major label.

Lepas dari dunia industri musik, Glenn Fredly merefleksikan dirinya tentang aset dalam dunia musik. Aset itu merupakan dasar untuk dapat survive atau sustain setelah melepaskan diri dari major label. Aset itu ternyata dapat dimiliki oleh semua orang. Aset berharga orang-orang kreatif (bidang musik salah satunya) adalah ’talent’. Talent atau kemampuan yang dimiliki berkat latihan dan pengalaman hidup yang dapat menjadi suatu kemampuan yang diakui oleh banyak orang lain. Hal inilah yang menyadarkan Glenn Fredly untuk tetap bermusik dengan caranya. Untuk bisa berbagi dengan banyak orang dengan bermusik. Tanpa harus diatur oleh industri musik. Dan kini berkreasi musik untuk dapat membantu lingkungan.

Belakangan ini, Glenn aktif memberikan waktu dan bakatnya untuk menjawab tantangan permasalahan lingkungan dan sosial. Ia ingin menjadi cahaya untuk orang-orang yang membutuhkan meskipun itu hanya senandung lagu. Lagu baginya tidak lagi sebagai penenang tapi juga dapat menjadi penggerak perubahan di masyarakat. Hal inilah yang membuat Glenn Fredly bersama dengan beberapa musisi lainnya aktif memberdayakan masyarakat yang membutuhkan dalam wadah Green Music Foundation.

Kita tidak akan menjadi seorang yang powerfull bila belum dapat mem-power-kan orang lain. Hal inilah yang kemudian menjadi idealisme seorang Glenn Fredly dan rekan-rekan musisi lainnya dalam Green Music Foundation. Tanpa mengurangi kepopulerannya, dengan cara yang sederhana, Glenn mengucapkan terimakasih karena diberikan kesempatan untuk dapat berbagi gagasan dan pengalaman tentang ”Music for Change” dalam acara IDEAFEST 2011 ini. 
.....................................


Sesi kedua digawangi oleh Erwin Arnada. Nama yang terkenal karena kasus Majalah Playboy beberapa waktu silam. Beliau ternyata juga adalah seorang produser film Jelangkung (2001). Film yang ber-budget rendah itu ternyata dapat booming dan menjadi tonggak awal maraknya perfilman layar lebar di Indonesia yang sempat mati suri.

Erwin Arnada menjelaskan bahwa kreativitas itu sesuatu yang selalu ada. Kreativitas itupun tidak bisa hanya ada dalam gagasan tapi harus applicable alias nyata. Kreatif tapi gagasan tersebut tidak bisa direalisasikan atau tidak applicable maka tidak bisa disebut kreatif.

Idealisme boleh TAPI harus dapat dibuat nyata. Hal inilah yang menjadi latihan seseorang yang berkecimpung dalam industri kreatif. ”Saat ini, untuk dapat berkompetisi dengan pelaku kreatif lainnya, kita harus punya stigma kreatif,” ujarnya. Stigma kreatif yang dimaksud adalah kreativitas nyata yang begitu meledak dan menjadi ciri khas si pelaku kreatif. Hal inilah yang menurut saya (penulis) adalah kekuatan brand seorang kreatif.

Menyambung dari apa yang disampaikan oleh Glenn Fredly mengenai kemampuan untuk melanjutan hidup atau bahasa kerennya sustainability. Bagaimana seorang kreatif dapat survive dan berkelanjutan hanya bisa dilakukan dengan evolusi. Evolusi dalam artian ide-ide dan gagasan aktif dalam menjawab persoalan hidup. Evolusi menurutnya juga berarti dapat mengasimilasikan gagasan dengan apa yang ada dan terjadi di sekitarnya. Hal ini lah kenapa kemampuan adaptasi menjadi begitu penting. Evolusi seorang kreatif tidak akan dapat berhenti dan di matikan hanya karena ruang dan waktu.

Contoh bagaimana sustainability orang-orang kreatif di bidang musik adalah grup band Rolling Stones. Erwin Arnada memberikan contoh bagaimana Rolling Stones dapat tetap eksis dan berkreasi serta beradaptasi dengan industri musik dan tren di masyarakat. Contoh sederhana dari pengalaman pribadinya, Erwin Arnada menceritakan bagaimana dia merasakan jeruji penjara karena penerbitan Majalah Playboy edisi Indonesia.

”Saya berdebat dengan pemilik Playboy mengenai isi majalah untuk budaya di Indonesia. Sehingga Majalah Playboy yang terbit bisa sesuai dengan budaya Indonesia,” ujarnya. Namun tidak lama setelah penerbitan, tuntutan dan hujatan datang. Erwin Arnada mendekam di penjara sampai dengan Juni 2011 lalu.

Berada di dalam penjara merupakan pengalaman yang mengerikan. Tidur dengan tujuh orang dengan ukuran ’kamar’ yang bisa dihitung dengan langkah kaki. Kumpul dalam satu gedung dengan 1200 orang beraneka ragam permasalahan. Pencuri, perampok, bandar narkoba, dan sebagainya. Buat orang awam itu merupakan pengalaman yang mengerikan. Ternyata begitu pula dengan seorang Erwin Arnada.

Namun bukan Erwin Arnada bila tidak bisa berkreasi. Dalam bilik penjara, Erwin Arnada berusaha untuk memanfaatkan dirinya. Dia tidak saja memberikan atmosfir yang lebih cair dalam penjara tapi juga produktif. Sebelum masa tahanannnya selesai, Erwin Arnada merilis sebuah media cetak yang terbit di Bali untuk kalangan ekspatriat, khususnya dari Rusia. Kenapa? Hal ini lah yang secara pribadi saya tanyakan kepada Beliau setelah makan siang.

Apa yang terjadi kemudian setelah Erwin Arnada bebas? Tanpa terduga, ada kiriman dua buah draft buku mengenai dirinya dan sebuah kontrak penulisan film tentang kisah hidupnya dengan judul ”Rabbit vs Goliath”. Asalkan kita sebagai seorang kreatif tidak memberhentikan kreativitas, maka peluang akan selalu dapat dibuat atau didapat. Hal ini yang menjadi pesan utama Erwin Arnada.

”Jangan jadikan ruang dan waktu menghentikan kreativitas Anda!” (Erwin Arnada)
...............................................


Menjelang istirahat makan siang, dalam kegelapan ruang, saya memberanikan diri menyapa Andy F. Noya atau yang lebih dikenal sebagai host Kick Andy di Metro TV. Ada apresiasi yang sempat saya utarakan kepada beliau yang hanya direspon dalam seulas senyum dan anggukan kepala. Apakah itu? (im)

cek ke judul lain ya :D
............................................................................

Laporan 2 Acara Launching Pembentukan Klub Kewirausahaan PIONIR-TP


Persiapan acara dilakukan sejak pukul 07.00. Acara yang direncanakan dimulai pada pukul 08.30 WIB mundur pada pukul 09.00 WIB karena berusaha menunggu perwakilan dari Kecamatan, dan tamu undangan dari luar SMK PIONIR. Hingga batas toleransi pukul 09.15 acara kami mulai dengan dipandu pembawa acara (MC) Ridwan dan Sri dari kelas XI.


Sambutan acara dilakukan oleh Ibu Tuti Suryati selaku Kepala SMK PIONIR. Dalam sambutannya, Kepala SMK PIONIR menyikapi pentingnya kesiapan mental siswa menghadapi tantangan pekerjaan di dunia nyata. Siswa setelah lulus dan bekerja dihadapkan pada sistem kontrak yang diterapkan perusahaan. Sekolah dapat menjawab permasalahan ini dengan pendidikan dan pembinaan di sekolah. Diharapkan dengan adanya wadah pembinaan kewirausahaan dalam Klub Kewirausahaan PIONIR-TP dapat menunjang pembinaan karakter siswa yang siap menghadapi tantangan dunia kerja.

klik lanjut ke halaman utama artikel

Laporan 1 Acara Launching Pembentukan Klub Kewirausahaan PIONIR-TP

Kebutuhan terhadap berhasilnya sekolah menghasilkan lulusan yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat menjadi suatu keharusan. Hal ini juga sejalan dengan kebutuhan akan permasalahan pengangguran dan kemiskinan yang ada di Bojonggede. Peluang sekolah untuk mendidik dan membina karakter siswa yang dapat menjawab permasalahan ini dapat dibentuk melalui keberadaan Klub Kewirausahaan. Klub ini dapat menjadi wadah pendidikan dan pembinaan yang tidak bertumpu pada guru tapi pada siswa dan tidak berorientasi pada nilai.


Acara yang digagas sejak akhir bulan Mei 2011 ini dapat terlaksana berkat surat jawaban dari sekolah pada bulan Juni 2011. Proses pelaksanaannya dilakukan sejak surat jawaban diterima dari SMK PIONIR sampai pada selesainya acara pada 9 Juli 2011. Acara ini didukung dan dibantu dari jajaran SMK PIONIR dan pihak Kecamatan yang mengizinkan kegiatan terlaksana di ruang Aula Gd. Kecamatan Bojonggede.


Proses perizinan tempat dan pembuatan surat-surat keluar dilakukan oleh sdr.Imraan dan panitia siswa. Terdata ada 17 nomor surat keluar yang terekapitulasi di lampiran. Sebagian besar terkait undangan dan penawaran sponsorship.

Entrepreneurship For SMK PIONIR

Bojonggede
 
            Seminar sehari “Entrepreneurship For All” telah terlaksana di SMK PIONIR Bojonggede. Pelaksanaan pada sabtu, 24 April 2010 pada jam 11.30 memberikan nuansa baru bagi siswa dan guru SMK PIONIR.


Seminar sehari ini menggagas pemahaman entrepeneurship sebagai suatu bentuk jalan terbaik menghadapi kompetisi lulusan sekolah yang mencari lowongan pekerjaan. Sebuah hal yang menarik dari awal mula seminar sehari ini digagas adalah ketika kepala SMK PIONIR, Dra. Tuti Suryati, langsung menangkap rencana ini sebagai peluang.


Entrepreneurship For SMK Mandiri


Laporan kegiatan Tekinpreneur-Proposal dalam Seminar Sehari Entrepreneurship For All
Waktu             : Selasa, 16 Maret 2010
Tempat            : SMK Mandiri



Entrepreneur adalah orang-orang yang mampu merubah kotoran dan rongsokan menjadi emas (Ciputra,2008). Hal ini juga berarti sesuatu yang dilihat sebagai peluang adalah sesuatu yang akan menjadi ”emas”.

Entrepreneurship memang menjadi sesuatu hal yang dianggap sudah biasa bagi pelajar sekolah kejuruan. Entrepreneurship bahkan sudah dipelajari secara intrakurikuler di sekolah kejuruan. Namun tidak banyak dari sekolah-sekolah kejuruan itu yang mampu melihat peluang-peluang entrepreneur yang datang.

Sekolah Menengah Kejuruan Mandiri adalah salah satu sekolah yang dapat melihat peluang entrepreneur ini. Pertemuan kami dengan pembina OSIS SMK Mandiri, Bapak M. Atib, S.E menghasilkan suatu langkah entrepreneurship. Sebuah seminar sehari bertema Entrepreneur Mandiri dilangsungkan pada Selasa (16/3) lalu.


 
Copyright © 2018. BukaBaju Template - Design: Gusti Adnyana